Hal yang selalu kita abaikan adalah rasa hormat dan kedekatan dengan seluruh anggota keluarga, di zaman seperti ini sepertinya setiap orang lebih individualis dengan keasikan dunia dan kesibukan pribadi, tanpa terfikir pentingnya kehangatan dekapan tangan lembut tergilas zaman, demi "kita" anaknya, ialah orang tua kita sendiri...
Berdua di meja makan
disaat itu duduklah seorang anak laki-laki yang telah dewasa, duduk dibangku kuliah dengan banyak pemikiran mengenai kehidupan seraya terbawa arus perlahan meninggalkan haluan menuju benua nan indah penuh bahagia, itulah pemikiran anak zaman sekarang mengenai sebuah hidup, tidak ada salahnya menggeluti kehidupan seperti itu, hanya saja mereka mulai lupa dari mana mereka berasal, tak mengingat getaran, hantaman karena terlindungi oleh selaput ketuban dari pemilik perut buncit yang senantiasa melindungi mahkluk hidup didalamanya, ia tidak kenal lelah menerjang waktu, bagai udara yang terus berhembus, keringat mengucur membasahi raut wajah lesu, terjemur matahari berhiaskan make up hitam ala polusi kendaraan yang tak teruji kelayakannya.
Perjuangan hidup-mati bagai seekor rusa kehausan dan meminum air sungai yang di dalamnya terdapat puluhan buaya besar siap menerkam dengan spontan. mungkin mereka telah lupa diatas kenikmatan sang anak, terdapat pengorbanan ibu yang susah payah membesarkannya sampai saat ini. Datanglah sang Ibu menemaninya makan, diselingi obrolan ringan penuh canda tawa, sang ibu fokus menatap piring kosong berisikan beberapa butir nasi terlentang bebas, raut wajah merona berubah mengencang menandakan ada sesuatu yang ingin di utarakan.
Meja makan menjadi saksi bisu
nak.. kamu tau ngga dulu mamah makan cuma makan pake sambel aja sama tempe goreng sehabis pulang kerja, sekarang kamu mah enak mau apa aja tinggal minta uang, ucapan itu terlontar tanpa sang anak siap mendengarkan curhatan sang ibu seraya keheningan menyelimuti meja makan. dulu saat mamah punya jatah cuti, mamah jual cuti itu dengan uang (karena dahulu masih ada sistem seperti itu) untuk apa coba..? pertanyaan retorik terlontar dari mulut sang ibu. ya cuma untuk beli susu kamu, disertai dengan senyuman terlontar dari mulutnya. tapi sang anak sangatlah mengerti karakter Ibunya "pasti si mamah sedih membicarakan masalah ini, cuma ia tidak mau menunjukannya kepada aku" bergumam sang anak dalam hati
singkat kata saya tidak bisa menceritakan dengan lengkap karena begitu panjang perbincangan mereka. mungkin saya akan meneteskan air mata di meja makan itu begitu mendengar keluh kesah serta perjuangan sang ibu.
bersambung....
singkat kata saya tidak bisa menceritakan dengan lengkap karena begitu panjang perbincangan mereka. mungkin saya akan meneteskan air mata di meja makan itu begitu mendengar keluh kesah serta perjuangan sang ibu.
bersambung....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar