kehidupan bersahaja, jauh dari polusi udara dan memikirkan penimbunan uang serta harta yang berlimpah, inilah beberapa kalimat penggambaran sebuah keluarga di Desa Tulungrejo (Kediri).
memiliki rumah mewah beserta garasi berhiaskan tunggangan roda empat nan modern, bukanlah impian keluarga ini, bagi mereka mempunyai keluarga harmonis dan dapat menyekolahkan sampai SLTA sudahlah cukup, entah ini pemikiran sederhana atau mereka tidak mengerti realita hidup ini..
namun dari sini kita dapa belajar bagaimana untuk tetap tersenyum dalam kondisi kekurangan sekalipun, karena memang tujuan hidup ini untuk mendapatkan kebahagian beserta teman-temannya yang sering kita sebut sebagai kenyamanan dan berkecukupan.
memulai perjalanan menuju Kediri dengan kereta Eksekutif "Kereta Api Gajayana" saya menikmati berbagai fasilitas kelas atas, mulai dari bangku empuk, slimut & bantal, saklar listrik, pendingin udara, gerbong yang bersih dan nyaman.
lepas dari segala kenikmatan fasilitas yang diberikan, kereta berhenti di sasiun Kediri, tepat di gerbong paling depan, bangku 2C. dinginnya ruangan memecah keindahan perjalanan tanpa banyak bicara aku turunkan koper dari atas bagasi kereta secara perlahan.
melewat bangku-bangku yang telah kosong ditinggal sang penikmat sementara fasilitas eksekutif kereta Api Gajayana, terlihat beberapa mata terpejam melanjutkan indahnya mimpi diselimuti pelukan udara dingin Air Conditioner, selimut hangat menjadi perpaduan sempurna penghilang kelelahan..
pagi hari dan pertama kalinya menghirup udara segar kota kediri, sayup-sayup mata mengantuk tidak menghentikan langkahku melanjutkan perjalanan menuju Desa Tulungrejo, berseluncur kuda pacu beroda empat yang modern pada masanya, namun itu hanya kalimat positif pengusir rasa kantuk.
Panter merah tahun 90an, cukup lihai menyusuri Kota Kediri yang lengang akan kebisingan dan polusi, bak seorang pembalap tanpa navigator sang supir meluncur semaunya, menginjak pedal gas tanpa aba-aba.
ohhh.. inikah sisilain kota ini, mereka merasa mempunya jalanan sendiri.
singkat kata, inilah bulan ke-2 berada di kediri.
menempati petakan kosan 4 x 3cm diisi oleh 2 orang, disinilah letak keunikannya, kita yang biasa hidup dengan nyaman dan terjadwal, harus berbagi kamar mandi yang terletak diluar.
bukan itu yang menjadi garis besar perjalanan menakjubkan sekaligus perenungan ini, melainkan mengenai kisah hidup Tuan Pandai besi beserta keluarganya, ialah pemilik kosan merangkap seorang pandai besi beanak 1, inilah setitik cahaya dikelamnya dunia, mereka dapat menjalani hidup begitu bersahaja. tanpa memikirkan mempunyai penghasilan berlimpah dikelilingi barang mewah.
Bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar