entah ini karma atau sekedar sandiwara belaka, ia tertawa lebar disaat kepala tertunduk lesu, bukankah semua sungai berujung pada lautan luas, seberapa kotornya air sungai, pasti akan membiru ketika telah sampai di laut.
Sulit, rumit dan tak berarah, itulah perkataan yang cocok menggambarkan kegagala dalam percintaan. Yap.. semua orang memang menginginkan kebahagian, tapi apa daya ketika kebahagianmu telah pergi tanpa pernah menunjukan raut wajahnya, berjalan lurus seketika hilang di kejauhan.
hidup ini memang tidak sebiru air di lautan namun satu hal yang harus selalu di ingat, karang yang kecil akan selalu kokoh meskipun terus-menerus dihantam ombak.
Pengalaman masa lampau menyisakan dampak bagi segelintir manusia, banyak pembelajaran didapat meski semua terasa berat. Kemantapan, jani dan perpisahan, semua memberikan kenangan tersendiri bagai sebuah keyboard meninggalkan sidik jari pemiliknya atau siapa saja yang menyentuhnya.
seringkali tidak dapat dipahami mengapa penyesalan datang terlambat, lalu ia enggan pergi meninggalakan singga sana kebahagian bermahkota masa depan nan indah. yang seharusnya dapat dikendalikan oleh sang pemilik kebahagian.
Secara perlahan ia mengumpulkan pasukan, menyerukan perlawanan atas tindakan sang tuan. hingga pada saatnya derita itu berlangsung cukup panjang, menutup semua jalan keyakinan yang ada, seraya berjalan dengan perlengkapan penuh, menyerukan kemenangan.
Kita mengerti kebahagian ini bukan hanya milik kita semata, mungkin kebahagian dirinya tidak menginginkan kita memeluknya dengan erat, lihatlah sinar itu yang selalu menyinari pepohonan tanpa henti setiap hari, sayangnya tidak seperti itu kisah percintaan dimuka bumi ini.
Hidup ini memang tidak seindah setitik cahaya penerang malam, lantas apakah kita akan selalu menjadi sebatang pohon yang tidak pernah terkena cahaya tertutup oleh dosa,
apa kita harus mempercayai perkataan yang menyebutkan, semua akan indah pada waktunya.
ini belum tentu terjadi pada kita semua, selagi kita tidak meyakini kebahagian itu akan memberikan lambaian tangannya dan terhenti di depan kita.
ini menjadi pembelajaran, kita manusia tidak boleh melampiaskan emosi sesaat tanpa mengkoreksi diri sendiri, hanya penyesalanlah yang setia menemani.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar